Myspace Glitter Graphics, MySpace Graphics, Glitter GraphicsMyspace Glitter Graphics, MySpace Graphics, Glitter GraphicsMyspace Glitter Graphics, MySpace Graphics, Glitter GraphicsMyspace Glitter Graphics, MySpace Graphics, Glitter GraphicsMyspace Glitter Graphics, MySpace Graphics, Glitter GraphicsMyspace Glitter Graphics, MySpace Graphics, Glitter GraphicsMyspace Glitter Graphics, MySpace Graphics, Glitter GraphicsMyspace Glitter Graphics, MySpace Graphics, Glitter GraphicsMyspace Glitter Graphics, MySpace Graphics, Glitter GraphicsMyspace Glitter Graphics, MySpace Graphics, Glitter GraphicsMyspace Glitter Graphics, MySpace Graphics, Glitter GraphicsMyspace Glitter Graphics, MySpace Graphics, Glitter GraphicsMyspace Glitter Graphics, MySpace Graphics, Glitter GraphicsMyspace Glitter Graphics, MySpace Graphics, Glitter GraphicsMyspace Glitter Graphics, MySpace Graphics, Glitter Graphics

20070707

Kekasih

Kekasih
Aku kabarkan berita. Kalah
Setelah waktu menjadi candu
dan satu-satu jatuh. Pasrah
Sungguh. Langkah kaki tak pernah letih
sedang detik mendesak menit mendorong jam menyibak hari menembus

minggu melewati bulan mencapai tahun menggapai abad.

Menggelepar-gelepar ditelan warna yang tak pernah kumengerti. Dalam

makna kukejar-kejar rindu yang datang dan senantiasa pergi lagi.
Kekasih
adalah jerat mengikat hasrat
dan aku tak bisa mengejar waktu yang melesat. Mataku menatap kedalam

malam pekat: Penuh
sayatan demi sayatan. Semua mendekat. Mendekat. Mendekat.
Ya, aku duduk membaca kata-kata yang berjalan di trotoir lengang.

Hanya kata-kata menggaung di antara tembok-tembok resah. Hanya

kata-kata yang meramu kalimat, menjebak alinea dan menyodok gagasan ke

dalam pusaran-pusaran pikiran – Sungguh, Kekasih!
Aku kalah dalam setiap kisah

Kekasih,
rindu itu semakin memburu – tak ada kata-kata yang dapat mengisahkan

rasa ini – Pikiran pun tersumbat dalam aliran waktu – Sungguh!
Kalau pun malam kuhabiskan untuk menangkap sisa-sisa kenangan, tak ada

lagi suasana ramah itu – Aku ingin lagi, malam ini, menguntai waktu

melewati dini hari menuju pagi – duduk bersamamu – melupakan kelam

bersemak dalam kamar sempitku!
Kekasih,
rindu itu semakin memburu – Tak ada rasa yang dapat memisahkan kita –

dalam waktu, pikiran melangkah entah ke mana. Dalam pikiran engkau

melangkah ke jantung hati. Ya, aku semakin mendekat. Entah rinru ini

mengikat. Hatiku semakin melangkah kepadamu!
Lupakan bayang-bayang. Lupakan sebarang kisah. Lupakan kegelapan. Aku

ingin tetap bersamamu. Sungguh!
Kekasih,
tidak ada lagi kata-kata selain untukmu!


Kekasih,
hasrat benar membuka pintu. Ramah
aku selalu melangkah ke rumah. Salah
tidak ada lagi dinding
tidak ada lagi jendela tempat memandang. Semua menjadi waktu dan

tonggak merinding. Kaki tak pernah singgah ke suara tembang. Dan

berbaris menuju kata-kata. Dan tembok perlahan-lahan terkuak. Duka
mengayuh rindu untuk kembali
mencari. Tidak ada lagi rumah. Sepi

Tidak ada komentar: